Selasa, 16 Februari 2016

Lima huruf saja!

Rangkaian alphabet itu seolah tertanam dalam benak lekat-lekat.
Hanya 5 huruf saja! 
5 huruf yang menggambarkan sosokmu nan indah
5 huruf yang membuat rona hati memendam asa
5 huruf itu bernama 'Rindu'


‪#‎sudut‬ ruang, 16 feb 2016

Senin, 25 Januari 2016

Pembohong ...



Aku tak merindumu ..

namun ketika seseorang menyebut namamu 

ketika itu pula aku ingat akan kita 

walau hanya sedikit dan sesaat 

  mengingatmu seakan aku memiliki seisi dunia ...


sudut ruang, 2015




Episode ...




Kamu adalah salah satu peran utama dalam sandiwara hidupku

Kamu pergi namun tak kan pernah kulupakan ..

Begitupun aku, masuk dalam episode hidupmu

Namun aku ragu ... apakah kau masih mengingatku

Seperti ku sangat mengingat detilmu


sudut ruang, 2016

Malioboro ...



Pagi itu, bukan sekedar tersenyum pada mentari. 
Namun juga bersyukur, karena aku ada disampingmu saat itu.
Lalu pagi ini, aku ingin tetap mengingatmu, 
walau cinta masih tetap bersemi dari dalam hati,
Kurasa masih ada yang sempat tinggal dan mengingatkanmu akan aku.

sudut ruang, 2015

"Siang !" ...



jadi, bagaimana jika segala tulisan yang kububuhkan ternyata benar aku tujukan untuk seseorang? 
bagaimana jika segala kata yang terukir sebenarnya ingin sekali untuk kamu (yang kutujukan) tengok? 
lalu, bagaimana jika segalanya hanya ada dalam ruang imajinasiku semata? bahwa sebenarnya 
segalanya tak pernah nyata. mengenai rasa sakitnya, rasa bahagia, maupun rindu yang berpendar-pendar hanyalah sebuah khayalan saja? 
kamu, terus saja berspekulasi dari segala tulisan yang aku biarkan berada di sini dan coba untuk kamu
 nikmati saat ini. mengenai fakta yang berada di balik segala tulisan yang tercipta, biarkan aku saja 
yang menyimpannya, bukankah lebih baik begitu? kamu, bebas menafsirkan apapun yang kamu 
inginkan

Hati-hati, Hati...


Hati-hati, Hati…
Ketika kau jatuh
Jangan lupa bangun lagi
Karena barangkali, 
Jatuhmu hanya isyarat Tuhan
Bahwa kau perlu lebih baik
Mencintai diri
Hati-hati, Hati…
Ketika kau yakin kau sudah cinta pada manusia
Jangan lupa siapa yang pertama kali mengenalkannya
Lalu ingat bahwa Ia tak ingin yang lain
Selain tulusnya sujudmu
Setiap kali Ia memanggil
Hati-hati, Hati…
Ketika kau sudah percaya
Jangan lupa bahwa semua orang bisa berubah
Pengkhianat tak pernah berkata ia akan berkhianat nanti, kan?
Hati-hati, Hati…
Ketika kau sudah mulai terpuruk
Ingatlah kapan terakhir kali kau bertahan dari susah yang begitu buruk
Lalu bayangkan bahwa mencintai diri sendiri selalu mampu membuatmu berjuang lagi
Dan lagi, dan lagi
Tanpa kenal henti
Hati-hati, Hati…
Ketika kau disakiti untuk yang kesekian kali
Ingatlah siapa yang selalu ada untuk menemani dan mengobati
Lalu berikrarlah dengan sesungguh-sungguhnya hati
: cinta terbaik adalah yang membaikkan diri
Hari-hati, Hati…
Saat kau lupa untuk berhati-hati
Bisa jadi kau bertemu orang yang salah lagi.#TS

Bandung, 24 Januari 2016

SESEORANG ...


Pernahkah kau merasa begitu mencintai seseorang?
Begitu merasa hidupmu sepertinya berhenti bahagia saat dia tak ada?
Begitu merasa sempurna saat sedang bersamanya?
Begitu merasa kurang saat dia berkata dia tak akan lagi pulang?
Begitu merasa lemah saat peluknya bukan lagi untukmu?
Pernahkah?
Aku pernah.
Aku pernah begitu mencintai seseorang,
sampai aku merasa aku tak akan pernah lagi bisa
mencintai siapapun sedalam aku mencintainya.
Aku pernah begitu bahagia dan merasa hidupku begitu sempurna,
hanya dengan meluangkan waktuku bersamanya.
Melihatnya tersenyum lalu tertawa,
menggenggam jemarinya,
mendamaikan gelisahnya,
membantu segala masalahnya.
Aku pernah merasa begitu kurang,
saat suatu waktu dia berkata dia tak akan lagi pulang.
Dia bilang, rumahnya bukan terletak pada hatiku
yang telah lama dia huni dengan alas berjuta rinduku.
Aku pernah merasa begitu lemah,
sampai tak bertenaga dan tak hendak bepergian ke mana-mana.
Kulihat dia bersama seorang yang baru.
Entah siapa.
Namun pasti, peluknya bukan lagi untuk ragaku.
Aku pernah begitu dalam mencintai seseorang.
Pernah.
Dan sampai detik ini, rasa itu masih begitu dalam.
Walau telah kusuarakan dalam cinta yang diam.
#TS

Hening ....



Meski sunyi dalam diam …
Ku tahu kau ingin ku dengarkan dalam heningmu
Hatimu tetap meracau bebas
Entah bersorak bagai awan berarak ataukah
Merundung bergelayut mendung
Aku tahu tatapmu tak pernah lena
Mencari setiap bayangku begitu rupa
Diammu begitu utuh, hingga …
Tak lagi kubiarkan matamu telanjangi bayang dan jejakku  
Bongkahan hatikupun meracau bebas sepertimu
Entah bersorak bagai awan berarak ataukah
Merundung bergelayut mendung
Satu sudut yang tak pernah ku mengerti
Mengapa masih ada harap dalam dadamu
Meski kau tahu,  kau tak mau
Jika saja kau mau tentu kau mampu
Jangan kau bebaskan lecutan tawamu
Karena ku tak kan lagi pernah peduli tawa mu mencuat
Namun mengapa sangat sulit ku lakukan itu ???
Aaaaah  ….  Pecut …
Pesonamu sungguh tak lagi utuh …

Oleh : Lia Kurniawati 
Bandung, 7 November 2015 - 22.10 WIB

AKU TAK INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT TINGGAL


Tak ada tangisan dalam kepergianmu
Tak ada tangisan dalam kepergianku
Kehadiran air mata yang silih berganti
Adalah takdirnya yang abadi
Ucapanku dan kepergianmu
Bukan kesedihan
Ucapanmu dan kepergianku
Selain cinta
Ini bukan kepergianmu
Ini bukan kehadiranku
Ini bukan kepergianku
Ini bukan kehadiranmu
Aku Tak Ingin Mengucapkan Selamat Tinggal
Rewrite from Ala Roa, (2008)
Bandung, 14 Desember 2015

Remember Me ...



Akankah aku selalu dalam ingatanmu ?

Karena kau selalu ada dalam benakku

kebersamaan kita yang terhitung waktu 

akan tertinggal menjadi sejarah 

Dan aku tak suka sejarah ... 


Sudut ruang, 2015


Minggu, 24 Januari 2016

Punggung yang Kurindu



Kelam menjelang malam
Lampu temaram mulai berbinar
Panggilan kedua meronta tanpa menunggu
Langkah memburu ….
Memburu rakaat yang tersisa
Langkah kaki basah mulai beranjak
menjajak menyusuri lorong gelap
menanjak berlantai karet
Bukan tangga berubin putih,
 yang sempat hinggap dalam benak
hap!!… satu ,, dua ,, tiga lantai kulalui
padat penuh sesak, merangsek masuk
menunggu antrian rukuh yang tak lagi putih
Salam terakhir …
pikirku menggeliat meronta
rasa itu tiba-tiba menyergap
Takut ditinggalkan di kota yang sama sekali tak kukenal
Hingga tak tahu arah pulang …
Uh! Sungguh kekanak-kanakkan …
Secepat kilat melongok dari tepi balkon berpagar besi ukir bunga itu
Tatapku menyisir setiap sudut ruang lantai dasar
Mencoba mencari salah satu punggung yang mungkin aku kenal
Hhhh… Namun tak kudapati punggung itu ….. dimana dia?
Sekali lagi pandangan menyisir setiap sudut ruang bagai scanner canggih
Daaaaan …. Yupz! Kudapati punggung itu …
Punggung kekar yang akan mengantarkanku ke stasiun malam itu
Layaknya siraman es di tengah dahaga .. nyeesssss!!
Seolah tak percaya mengunjungi kota ini
masih bagian dari pulau jawaku, Akhirnya aku pulaaaang …










Sabtu, 23 Januari 2016

Tentang Semalam ...


Kucoba mengolah kata dalam bentuk kata-kata nan puitis
Namun rasanya tak sepandai chairil anwar atau pujangga lainnya
Tentang perasaan semalam ..
Sesungguhnya aku tak pandai menyembunyikan rasa
Aku-pun bukan seorang pengemis rasa
Namun jika memaksa harus mengemis rasa
Ketika rasa di ambang anfal
Sungguh rasanya seolah membuat celurit itu menghantam nominal diri
Dan ketika rasa sudah tercabik
Sisi kanak-kanak itu pun hadir
Langkah kaki bergegas menjauh segera menyeruak dalam benak
Menyelamatkan gumpalan darah se-vital jantung agar tak lebih tercabik
Menutup rapat-rapat perangkai kata ..
Hhhhhhmmm  ……… namun sepertinya,
Terpaksa mengalahkan ego yang membuncah ..
Selamat  pagi pulau jawaku ..