Minggu, 24 Januari 2016

Punggung yang Kurindu



Kelam menjelang malam
Lampu temaram mulai berbinar
Panggilan kedua meronta tanpa menunggu
Langkah memburu ….
Memburu rakaat yang tersisa
Langkah kaki basah mulai beranjak
menjajak menyusuri lorong gelap
menanjak berlantai karet
Bukan tangga berubin putih,
 yang sempat hinggap dalam benak
hap!!… satu ,, dua ,, tiga lantai kulalui
padat penuh sesak, merangsek masuk
menunggu antrian rukuh yang tak lagi putih
Salam terakhir …
pikirku menggeliat meronta
rasa itu tiba-tiba menyergap
Takut ditinggalkan di kota yang sama sekali tak kukenal
Hingga tak tahu arah pulang …
Uh! Sungguh kekanak-kanakkan …
Secepat kilat melongok dari tepi balkon berpagar besi ukir bunga itu
Tatapku menyisir setiap sudut ruang lantai dasar
Mencoba mencari salah satu punggung yang mungkin aku kenal
Hhhh… Namun tak kudapati punggung itu ….. dimana dia?
Sekali lagi pandangan menyisir setiap sudut ruang bagai scanner canggih
Daaaaan …. Yupz! Kudapati punggung itu …
Punggung kekar yang akan mengantarkanku ke stasiun malam itu
Layaknya siraman es di tengah dahaga .. nyeesssss!!
Seolah tak percaya mengunjungi kota ini
masih bagian dari pulau jawaku, Akhirnya aku pulaaaang …










Tidak ada komentar:

Posting Komentar