Kelam menjelang malam
Lampu temaram mulai
berbinar
Panggilan kedua meronta
tanpa menunggu
Langkah memburu ….
Memburu rakaat yang
tersisa
Langkah
kaki basah mulai beranjak
menjajak
menyusuri lorong gelap
menanjak
berlantai karet
Bukan
tangga berubin putih,
yang sempat hinggap dalam benak
hap!!… satu ,, dua ,,
tiga lantai kulalui
padat penuh sesak,
merangsek masuk
menunggu antrian rukuh
yang tak lagi putih
Salam terakhir …
pikirku
menggeliat meronta
rasa
itu tiba-tiba menyergap
Takut
ditinggalkan di kota yang sama sekali tak kukenal
Hingga
tak tahu arah pulang …
Uh!
Sungguh kekanak-kanakkan …
Secepat kilat melongok dari
tepi balkon berpagar besi ukir bunga itu
Tatapku menyisir setiap
sudut ruang lantai dasar
Mencoba mencari salah
satu punggung yang mungkin aku kenal
Hhhh… Namun tak
kudapati punggung itu ….. dimana dia?
Sekali lagi pandangan
menyisir setiap sudut ruang bagai scanner
canggih
Daaaaan
…. Yupz! Kudapati punggung itu …
Punggung
kekar yang akan mengantarkanku ke stasiun malam itu
Layaknya
siraman es di tengah dahaga .. nyeesssss!!
Seolah
tak percaya mengunjungi kota ini
masih
bagian dari pulau jawaku, Akhirnya aku pulaaaang …

Tidak ada komentar:
Posting Komentar